Pengalaman Memilukan Terjangkit Virus Fenomenal

31 July 2021
Mister Babeh Chelsea.

Nasib berkata lain, 17 Bulan berhasil bertahan dari peliknya situasi, akhirnya kami sekeluarga harus merasakan ganasnya virus ini.

Awal Juni merupakan kembalinya hari kelam tentang gelombang virus yang kembali menghantam kehidupan masyarakat Indonesia untuk yang kedua kalinya. Kali ini “Varian Delta” yang menyerang masyarakat dengan sangat cepat dan sporadis dengan tidak mengenal umur ataupun gender. Situasi kembali dengan tingkat kerumitan yang sangat tinggi dan kompleks. Beberapa warga harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anggotanya dengan begitu saja.

Kondisi Awal Varian Delta

Awal Juni, ketika situasi mulai ramai dengan kabar bahwa beberapa tempat mengalami lonjakan kenaikan virus, di tempat saya tinggal (daerah Cinere) juga mengalami kepahitan yang sama. Semua cerita bermula dari tetangga saya yang merupakan pasangan suami-istri sekitar berjarak 20 meter dari tempat saya tinggal, dinyatakan positif terjangkit virus corona. Warga di sini, tetap acuh tidak menggunakan masker dan berkegiatan seperti biasa. Tak lama berselang dari kejadian itu, tetangga yang berbeda 5 rumah dari rumah saya juga ikut terjangkit. Meskipun sudah ada 2 rumah yang terkena virus tersebut, Warga di sekitar rumah saya juga tetap saja cuek.

Setelah melewati bulan Juni, Pada awal Juli, Cuaca mulai tidak bagus. Cuaca pada bulan Juli adalah cuaca yang paling tidak stabil. Di pagi hari cuaca dingin, Kemudian siang hari menjadi sangat panas, menjelang sore hingga malam hujan deras mengguyur sekitar Jakarta Selatan dan Cinere.

Awal Terkena Virus Corona

Pada saat bulan Juni ketika situasi sudah ramai-ramai tentang covid-19, Istri saya merasa bahwa pernafasannya terganggu dan mulai batuk. Tetapi kami tidak langsung untuk melakukan SWAB dan lebih memilih untuk melihat gejala lain. Hal tersebut kami lakukan, Mengingat istri saya punya asma. Oleh karena itu, istri saya memutuskan untuk menanggulangi sesaknya dengan menggunalan inhaler. Sesaknya berkurang, namun tidak hilang. Dengan kondisi tersebut, Akhirnya saya memutuskan untuk swab istri saya. Namun hasil dari swab yang kami lakukan berujung pada kata negatif. Dengan hasil negatif tersebut, saya langsung membawa istri saya untuk berobat ke dokter umum di klinik dekat rumah.

Ketika berobat, Istri saya mendapat obat sesak dan obat untuk batuknya. Ketika istri meminum obat sesak tersebut, dia merasa badannya lemas tak berdaya hingga mengalami halusinasi. Setelah satu kali meminum obat tersebut, sesaknya hilang, tetapi batuknya tidak hilang. Karena anak saya yang berumur 8 bulan masih ASI, tiba-tiba sekujur badannya terkena bintik-bintik merah. Jadi kurang lebih posisinya waktu itu, Istri batuk-batuk dan anak bintik-bintik.

Setelah 3 hari anak saya bintik-bintik merah hingga bonyok tanpa demam dan pilek, saya memutuskan untuk membawa anak saya berobat ke dokter spesialis anak di daerah Beji, Depok. Dokternya sudah curiga terhadap anak saya, bahwa anak saya pada saat bintik merah itu, merupakan gejala Covid-19 Varian Delta. Tetapi, Dokter tersebut memberikan antivirus (alergi) dan paracetamol jika ada demam disertai dengan bedak kaladin untuk gatal-gatal.

Awal Gejala Covid-19

Alhamdulillah, sama seperti istri, cukup sekali mengonsumsi obat, anak juga langsung sembuh dan bintik-bintiknya hilang seketika. Tak lama berselang setelah anak sembuh, 2 hari kemudian istri tiba-tiba meriang. Saya ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan di tengah PPKM. Siang hari setelah pagi harinya meriang, istri melapor bahwa dia membeli ikan di tukang sayur, namun ikan tersebut busuk. Feeling saya mengatakan tidak baik.

Tiba-tiba istri memberi kabar bahwa dia secara tiba-tiba drop dan merasa sangat meriang. Saya langsung pulang dari kantor dan membawa obat untuk meriang (paracetamol). Setelah meminum paracetamol, istri tetap tidak sembuh dan keesokan paginya dia merasa kepalanya sangat sakit tak tertahankan. Saya sudah curiga dari dia merasa meriang, langsung saya putuskan untuk swab dan kali ini ternyata hasilnya positif.

Betapa marahnya saya ketika melihat hasilnya positif, saya merasa gagal telah melindungi istri saya. Hal yang pertama saya lakukan ketika sampai ke rumah yaitu saya memberitahu tetangga dan menanyakan rumah RT. Ketika saya memberitahu tetangga, tetangga saya malah ngomel-ngomel karena sikap saya yang membawa istri saya untuk swab ketika dia sedang bergejala. Mereka merasa bahwa istri saya dicovidkan. Saya yang sedang marah saat itu semakin marah dengan sikap yang tidak support sama sekali. Tetapi saya cukup diam kemudian pulang ke rumah.

Saya menelfon sahabat saya yang merupakan seorang bidan. Beliau meminta saya untuk segera menghubungi puskesmas kecamatan di tempat saya tinggal. Saat itu juga saya langsung ke Puskesmas kecamatan dan memberitahu bahwa istri saya positif. Mereka hanya meminta saya untuk menghubungi yang tertera di tembok (Nomor Satgas Covid Cinere)

Sistem Penanggulangan Covid yang Hampir Tak Berdenyut

Ketika saya pulang dari Puskesmas Cinere, saya mulai menghubungi nomor Hotline Whatsapp satgas covid-19. Dengan harapan yang menggebu-gebu, ternyata mereka membalas pesan saya keesokan harinya dengan pesan bahwa akan ada yang menelfon (tim pemantau) untuk memberi kami himbauan dari puskesmas ke pasien yang isoman.

Hari kedua setelah dijanjikannya kami akan dihubungi oleh tim pemantau, ternyata kami tidak dihubungi sama sekali, itu benar-benar kami mandiri dan hotline covid masih membalas secara manual tentang ini-itu. Di sisi lain, Posisi istri sudah tidak bisa ditolerir. Bermodalkan tanya kesana-kesini, akhirnya saya memutuskan untuk membeli obat-obatan secara sporadis melalui aplikasi dan langsung ke apotik untuk saya berikan ke istri. Gejala yang dialami istri silih berganti. Gejala a hilang, namun gejala lain timbul, seperti it uterus hingga gejala terakhir yaitu RUAM di hari ke 5 isoman.

Di hari ke-5 kami juga masih belum di hubungi tim pemantau, hotline covid memberikan nomor hotline KIA agar didaftarkan, kemudian Hotline KIA juga membalas keesokan harinya, karena jam operasionalnya sudah berakhir.
Keesokan harinya KIA menelfon kemudian mengoper kami ke hotline satgas lagi, Hotline satgas mengoper kami untuk menghubungi KIA, saya marah dan membalas WA dengan agak sedikit ketus. Hingga akhirnya, pada hari ke 7 isoman, kami baru dihubungkan dengan tim pemantau dari satgas covid-19. Dan dihari tersebut, gejala kami sudah sangat ringan.

7 hari kami harus berjuang sendirian tanpa pegangan profesional. Luar biasa bukan? Sistem yang ada tidak terlalu membantu. Keputuskan kami juga dengan mendatangi RS Swasta juga tidak membantu, Kami sudah bolak-balik ke RS Swasta sekalipun tidak mendapatkan ruangan karena sangat penuh. Sedangkan ketika kami butuh bantuan untuk isoman, tetapi tidak ada respon juga. Situasinya sungguh sangat rumit.
Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, hanya saja ingin memberitahu kepada pembaca, bahwa ketika kalian terjangkit, 90 persen kalian harus berjuang sendiri. Oleh karena itu, tak sedikit yang tidak selamat ketika isoman karena memang seperti itu sistemnya.

Semoga setelah membaca tulisan ini kalian sadar, bahwa Covid-19 itu tidak terlalu bahaya, yang bahaya itu penyebarannya. Penyebarannya yang tidak mengenal waktu, relationship, umur dan gender.

 

Hentikan Penyebaran Covid-19.

 

Mister Babeh Chelsea
mister babeh chelsea
Mister Babeh Chelsea adalah seorang Penulis, Videografer, Peneliti Muda, Sarjana Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Pemikir yang Ideal serta Realistik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright @ 2021 Misterbabehchelsea.com All right reserved
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram