Surat Untuk Jakarta

Cerpen Surat Untuk Jakarta, Contoh Cukstaw Cerpen. Karya Yuni D. L. Cerita cerpen ini cocok untuk kalian yang sedang jatuh cinta
18 April 2021
Mister Babeh Chelsea.

Surat Untuk Jakarta merupakan cerpen karya Yuni D. L. Seorang Mahasiswi Reguler Sore Unindra Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Cerpen ini merupakan contoh dari tugas Cukstaw Cerpen. Cerita cerpen bagus bagi kalian yang sedang jatuh cinta. Selamat membaca.

     “Tiap pagi menjelang...”

     “Kau disampingku..”

     “Ku aman ada bersamamu”

     “Yakin?”

     “Bukan itu lirik selanjutnya, El.”

     “Kamu kenapa suka banget manggil saya El sih?”

     “Ardhi, kan panggilan sayang dari ibumu.”

     “Hahaha berarti El panggilan sayang darimu?”

     Aku melotot. “Kamu habis mabuk, ya?”

     Aku selalu heran kenapa hampir setahun ini diperhatikan El selalu menggodaku seperti itu, coba lihat bajunya yang compang camping. Kemeja seperti tidak pernah dicuci, katanya cita-cita musisi tetapi penampilan seperti pengamen jalanan yang benar-benar aku kasihan dengannya, makanya aku mau jadi temannya.

“Kamu itu punya potensi El.” kataku sambil memperhatikannya, aku yakin gitar yang dimainkannya itu risih sang empunya tidak ikut merawatnya.

“Memangnya kamu baru sadar, Lun?” kedua alis tebalnya naik dan matanya yang merah menatapku, tangannya melepas gitar kemudian mengambil satu batang Sampoerna Mild dari bungkus cukai 2020 lalu mengepulkan asapnya setelah dibakar dengan hati-hati. Matanya, Ya Tuhan ia menatapku.

“Lun, aku pusing melihatmu terus menutup diri.”

“Hah?”

“Iya kalau kamu gak nyaman berteman denganku gak apa-apa, bukankah kamu gak suka bau asap rokok? Bukankah kamu gak suka laki-laki pemabuk? Nadin dan Sal Priadi sudah mewakilkan, aku tau kamu terlahir dari cantik cahaya rembulan, sedang aku dari badai riuh yang berisik juga banyak hal-hal sedih.” ujarnya dan aku pikir ia memang sedang mabuk.

“Sudah jam 8 malam.” El spontan mematikan bara udutnya menyusul menatap jam dinding yang sama.

“Itu jamnya mati bodoh!” ia bangun dari duduknya dan berangkat untuk menyalakan mesin motor bebek yang tua itu dengan bunyi bising membuat kepalaku semakin pusing.

            Aku segera bergegas, setelah motor bebek yang ditumpanginya mengecil dari pandanganku. Kali ini langkah kakiku agak lebih cepat dari biasanya. Setiap pulang jaming bersama El,  aku selalu tidak sabar melepas rindu. Ahh! Selain itu aku juga ingin menikmati senja Ibu Kota.  

“Permisi Mas, ada Adnan?” tanyaku pada seorang pemuda di Bengkel, dekat rumahku.

“Waduh pangapura Mbak, mas Adnan sudah pulang daritadi.” sahut salah satu montir yang tak lepas dari logat jawa nya itu. Aku sebenarnya ingin tertawa tapi sudah malas yang terlintas diotakku mengapa ia bisa pulang secepat ini.

“Yasudah terimaksih, Mas!” sahutku sambil mengangguk, kecewa!

            Aku tidak jadi melepas rindu, aku mau pulang, kesal. Dua hari yang lalu El mengantarku kesini, tapi ia tidak ada juga. Capek, jalan lima kilometer dari bengkel kerumahku.

***

“HALLO!” suaranya akrab kudengar ditelinga tapi nomor tidak dikenal.

“Ya? Hallo.” sahutku sambil mengerutkan dahi, heran.

“Sudah pulang?”

“Sudah.” ucapku, dalam hati memastikan.

“Hati-hati dijalan ya!” ucapnya, benar saja ini suaranya.

Aku matikan panggilan. Laki-laki cuek seperti itu, misterius tapi selalu membuatku tak punya alasan untuk meninggalkannya. Langkahku semakin cepat, menggerutu dalam hati, tatapanku sinis setiap melihat orang lain. Sampai dirumah aku sudah tau apa yang akan terjadi.

            “Mbok Ya, ndang siap-siap toh ndo. Nyanyi nganti malem koyo wene.Ambil wudhu.” ujar ibu sambil melepas mukena dan melipatnya.

Aku tidak menjawab, aku langsung bergegas wudhu.

            Selesai sholat.

            You can love two people at the same time, but never at the same level and a true relationship is just two unperfect people who refuse to give up on each other.

***

“HALLO!”

“Ada apa?”

“Lun, aku Adnan…”

“Sudah tau, kenapa?”

“Kamu tidak mencariku? Lun, sometimes your nearness takes my breath away and all the things I want to say can find no voice. Then in silence, I can only hope my eyes will speak my heart.”

“Bukankah kita sudah jarang bertemu?”

“Lun…”

Aku menghela nafas lalu menghembuskannya dengan amat hati-hati, berat.

“Besok aku berangkat ke Yogya!” kataku lirih sambil memejamkan mata.

“Aku sudah tau.” sahutnya seperti tidak tau lagi harus berbuat apa.

“Tentunya aku tidak perlu bertanya, apakah kamu sedih? Aku sudah tau, kamu tidak akan keberatan untuk kehilanganku.”

“Kamu yakin El baik untukmu?”

“Kenapa kamu bawa-bawa El? Ini hubungan kita, apa selama ini kamu menganggap kita ada hubungan? Apa selama ini kamu menganggapku ada diduniamu, Adnan?”

“Maaf, aku tidak membertahumu soal aku sudah tidak bekerja dibengkel lagi.”

“Jadi kamu menyuruh Mas Dito berbohong padaku? Bahkan aku tidak tau keberadaanmu, El yang menemani aku mencari kamu, Adnan aku pikir aku tidak akan menyesal jika aku ke Yogya dan berangsur melupakanmu. Kamu juga tidak perlu menghubungi aku lagi.”

“Lun…”

“Tenang aku tidak akan lagi memaksamu untuk mengatakan bahwa kamu mencintaiku.” kataku terakhir sambil tertawa tipis, jenaka sekali memang diriku. Kumatikan teleponnya. Aku tidak ingin melukai diriku sendiri dengan berbincang lama-lama.

            Aku sudah tidak punya banyak waktu, hitungan jam, mobil travel yang sudah dipesan Ibu, sampai. Barang-barangku sudah siap semua, entah mengapa El berdiri didepan teras dengan gelisah sambil menghisap batang terakhirnya, mungkin itu bungkus rokok sisa kemarin. Ibu sudah teriak-teriak.

“Ndo, jangan ada yang tertinggal!” Kepalaku pening. Mataku sembab tidak bisa bohong bahwa aku sangat menyedihkan semalam. Aku beranjak kedepan, Ibu menyuruhku mengantarkan teh hangat untuk El dan mempersilahkannya duduk di ruang tamu.

            Lazuardhi Mahendra, dipanggil El karena menurutku keren saja. Ia laki-laki yang memiliki ambisi sama denganku, Yogyakarta adalah kota kita nanti dalam memulai perjalanan karir didunia musik. Berbeda dengan Adnan, ia jauh sekali. Adnan adalah laki-laki yang sangat perfeksionis, tidak ada alasan, tidak ada yang dapat mengalahkan egonya kecuali dirinya sendiri. Bahkan aku tidak tahu alasan ia sudah tidak bekerja dibengkel lagi. Jadi teringat, saat ia meminta saran untuk memilihkan warna kaos, kupikir ia akan membeli warna abu-abu sesuai jawabanku, ternyata ia membeli warna hitam pilihannya.

Aku menulis didalam secarik kertas semalaman.

Ini untukmu, untuk Jakarta dan untuk semua cinta yang pernah kau abaikan, Adnan.

Esok, aku akan memulai hidup yang baru. Aku bukan kehilanganmu saja, Adnan. Tapi teman kecilku, tempat-tempat bersejarah di sini. I just need you to hold my hand and tell me everything’s gonna be okay. Tapi kamu sudah lebih dulu jauh dari gapaiku.

Aku percaya, apabila kamu mencintai separuh hidup seseorang maka dirimu akan beruntung telah memiliki seseorang tersebut. Aku yakin, kamu akan kembali pada rumah dalam anganmu. Entah siapapun yang akan kamu temukan, akan kah aku?

Hari ini adalah hari menyedihkan sekaligus menyenangkan.

I just wanna say something when i meet you soon. I love you. That’s all. Sebelum kalimat ini beranjak untuk, El. Because, Love is flower, you’ve got to let it grow – kata John Lenon.

Hingga detik ini Tuhan menganugerahkan kelapangan hati untukku, hingga detik ini Tuhan masih mengizinkan aku mencintaimu, hingga detik ini Tuhan memberikan aku tantangan hidup lebih lama lagi dan hingga detik ini aku mampu memaafkanmu juga seluruh kota ini, dunia ini, seisinya pun jua.

“Tante, mobilnya sudah datang.” suara itu membuatku beranjak melipat kertas tersebut menghapus air mataku yang menetes dan memeluk tubuh Ibu dengan kencang.

“Mboten pareng nangis ndo.”

“Bu, Luna jahat ya ninggalin Ibu sendiri disini.”

“Kan ada mbak, Ndo”

“Nak Ardhi, jaga Luna ya. Kamu lapor Ibu kalo ada apa-apa!” disambut anggukan semangat El. Aku tersenyum haru.

“Bu, kalau Adnan kemari aku titip ini.” Ibu mengerutkan dahinya menerima surat yang kutulis semalaman.

“Matamu, sembab. Gara-gara ini toh, Ndo?”

Aku tersenyum kembali. Supir travel sudah membantu menaikan barang bersama El, aku masih berat meninggalkan Ibu disini walau sama mbak. Tapi diusiaku, sudah saatnya memprioritaskan cita-cita tanpa memikirkan resikonya. Kalau memikirkan cinta saja kan tidak ada habisnya. Apalagi yang dicinta tak jelas adanya. Aku ini kenapa?

            “Sudah siap?”

            “Siap adu argumen setiap hari dengan gitaris keras kepala?”

            El tertawa, kali ini penampilannya lebih rapih. Senang melihatnya. Memang terkadang hidup tidak harus berpihak kepada yang baik-baik saja. Jika menurutku ia buruk, seharusnya tak seburuk itu. Bukankah tak lebih baik jika aku menghindarinya? Aku penasaran. Aku percaya saja ia keren dan mampu mengubah dirinya suatu saat nanti atau pilihan terakhir aku harus menerima dirinya memang terbentuk, terbentuk, terbentuk.

“El?”

“Hmm…”

Kali ini bukan untuk Jakarta tetapi untukmu,

“Aku bersyukur bertemu kamu.”

“Sekarang kamu pintar menggoda ya?” sahutnya disambut tawa Pak Supir.

“Aku gak sedang bercanda, El!”

“Mana pernah kamu bercanda.”

            Aku menyadari bahwa Tuhan telah menghadirkan hal yang tidak pernah kunantikan, Tuhan telah menghadirkan apa yang kubutuhkan tanpa harus repot-repot mencari. Kalau satu job begini, kecil kemungkinan aku jauh dari El. Andai aku dulu tak berjanji untuk memperjunagkan mimpi-mimpi, mungkin cerita ini tidak ada kelanjutannya. Tuhan kembali mengabulkan janji-janjiku.When love feels like magic, you call it destiny. When destiny has a sense of humor, you call it serendipity. Love is a mistery that is hidden throughout the ages, sneaking behind the appearance and make our hearts a the nest.
Baca Juga : Rumah Masa Depan, Karya Chandar Hadi Kusuma

Bagaimana cerita cerpennya bagus bukan? Jangan lupa untuk memberikan komentar tentang cerpen ini.
Jika kalian ingin mengirimkan sebuah apresiasi, silakan kunjungi halaman ini Link Here.

Mister Babeh Chelsea
Mister Babeh Chelsea
Mister Babeh Chelsea adalah seorang Penulis, Videografer, Peneliti Muda, Sarjana Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Pemikir yang Ideal serta Realistik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright @ 2021 Misterbabehchelsea.com All right reserved
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram